Bagaimana Bank dan E-Commerce Menggunakan Teknologi untuk Mencegah Scam: Strategi Digital Melindungi Pengguna di Era Transaksi Online
Pendahuluan: Ledakan Transaksi Digital dan Ancaman Scam yang Meningkat
Dalam satu dekade terakhir, dunia berubah menjadi semakin digital. Perbankan online, mobile banking, marketplace, hingga pembayaran QR berkembang sangat cepat. Namun, kemudahan ini diikuti oleh risiko baru—yaitu penipuan online atau scam yang terus meningkat.
Modus penipuan semakin kreatif: mulai dari phising, pencurian akun, OTP palsu, social engineering, hingga transaksi fiktif. Bank dan e-commerce menjadi target empuk karena menangani data sensitif dan uang dalam jumlah besar.
Untuk menghadapi ancaman ini, institusi keuangan dan platform perdagangan digital tidak cukup hanya mengandalkan prosedur manual seperti verifikasi petugas atau laporan pengguna. Mereka kini menggunakan teknologi canggih yang mampu bekerja otomatis, cepat, dan dengan akurasi tinggi.
Artikel ini mengulas bagaimana bank dan e-commerce memaksimalkan teknologi untuk melindungi pengguna dari ancaman scam yang semakin berbahaya.
1. Mengapa Dunia Perbankan dan E-Commerce Rentan terhadap Scam?
Sebelum melihat solusinya, penting memahami mengapa dua industri ini paling sering diserang.
a. Volume transaksi sangat besar
Setiap detik, bank dan marketplace memproses ribuan hingga jutaan transaksi. Pelaku penipuan memanfaatkan celah kecil yang sulit dideteksi secara manual.
b. Data pribadi pengguna tersimpan dalam jumlah besar
Mulai dari nomor telepon, alamat, kartu kredit, sampai riwayat pembelian. Data ini menjadi sasaran utama cybercriminal.
c. Modus penipuan berkembang cepat
Pelaku terus memperbarui metode, memanfaatkan teknologi baru, hingga memakai AI untuk membuat pesan phising yang mirip dengan aslinya.
d. Tingkat literasi digital masyarakat belum merata
Banyak pengguna tidak memahami cara mengamankan akun, sehingga menjadi korban social engineering.
Karena alasan-alasan tersebut, teknologi anti-scam menjadi pondasi utama dalam keamanan digital modern.

2. Teknologi Utama yang Digunakan Bank untuk Mencegah Scam
Bank memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga aset nasabah. Berikut berbagai teknologi canggih yang mereka gunakan:
a. Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning
AI adalah teknologi yang paling penting dalam mendeteksi penipuan modern. Sistem AI menganalisis pola transaksi, aktivitas login, dan perilaku nasabah. Jika ada anomali, sistem otomatis memberi peringatan atau memblokir transaksi.
Contoh deteksi AI:
- Transaksi di luar kebiasaan, seperti nominal besar secara tiba-tiba
- Login dari perangkat baru yang tidak dikenali
- Aktivitas mencurigakan di jam tidak biasa
- Upaya login berulang dalam waktu singkat
AI membantu bank menurunkan angka kerugian finansial secara signifikan.
b. Sistem Monitoring Real-Time
Dulu, bank mendeteksi transaksi mencurigakan setelah laporan masuk. Sekarang, deteksi dilakukan dalam hitungan detik.
Monitoring real-time memungkinkan bank:
- memblokir transaksi otomatis
- menahan dana sementara
- memberi notifikasi langsung kepada pengguna
Hal ini penting untuk mencegah scam yang terjadi dalam waktu singkat.
c. Multi-Factor Authentication (MFA)
Bank menerapkan lapisan keamanan berlapis, seperti:
- OTP (One Time Password)
- PIN dinamis
- Biometrik (sidik jari, wajah)
- Password yang dienkripsi
MFA memperkecil peluang penipu masuk ke akun meski memiliki sebagian data.
d. Enkripsi End-to-End
Setiap data yang dikirim antara perangkat dan server bank dienkripsi sehingga tidak bisa dibaca pihak ketiga. Ini melindungi informasi seperti:
- nomor rekening
- password
- detail kartu kredit

e. Sistem Anti Malware dan Anti Bot
Bank juga menggunakan firewall cerdas yang mampu mendeteksi:
- percobaan login massal (brute force)
- bot otomatis yang mencoba meretas data
- malware yang memantau aktivitas perangkat pengguna
f. Verifikasi Biometrik Tingkat Lanjut
Selain sidik jari dan wajah, beberapa bank kini mengembangkan:
- voice recognition (pengenalan suara)
- palm vein scan (pemetaan pembuluh darah tangan)
Metode ini hampir mustahil dipalsukan.
3. Teknologi Anti-Scam yang Digunakan E-Commerce
E-commerce memiliki pola scam yang berbeda dengan bank. Di marketplace, ancaman sering datang dari akun palsu, penipuan transaksi, hingga manipulasi ulasan.
Berikut teknologi yang digunakan:
a. Sistem Verifikasi Identitas (KYC) Terintegrasi
Marketplace besar kini mewajibkan penjual untuk:
- mengunggah KTP
- melakukan verifikasi wajah
- menyediakan data kontak valid
- mencocokkan rekening bank dengan identitas penjual
Ini mengurangi akun palsu dan penjual fiktif.
b. AI untuk Mendeteksi Akun dan Toko Palsu
AI mempelajari pola seperti:
- nama toko mirip dengan brand terkenal
- perubahan harga tidak wajar
- aktivitas upload produk terlalu cepat
- komplain serupa dari pelanggan
Jika mencurigakan, sistem menutup toko otomatis.
c. Sistem Penilaian Risiko Transaksi
Platform memeriksa ribuan faktor sekaligus, seperti:
- perilaku pembeli
- pola belanja
- metode pembayaran
- alamat pengiriman
Jika transaksi terindikasi scam (misalnya pembeli ingin melakukan retur palsu), sistem menahan dana hingga proses diverifikasi.

d. Pendeteksi Ulasan dan Rating Palsu
E-commerce menggunakan AI untuk membaca bahasa ulasan dan menilai apakah:
- ditulis secara otomatis
- penuh pola copy-paste
- berasal dari akun baru dengan perilaku tidak alami
Ulasan palsu dihapus agar pengguna tidak tertipu.
e. Perlindungan Pembayaran Menggunakan Escrow System (Rekening Bersama)
Dana pembeli tidak langsung masuk ke penjual. Sistem menahan dana hingga:
- barang diterima
- pembeli mengkonfirmasi
- tidak ada komplain
Ini adalah salah satu teknologi paling efektif mencegah scam.
f. Chat Filter dan Pendeteksi Link Berbahaya
AI mengenali pesan mencurigakan seperti:
- link ke halaman phising
- ajakan transaksi di luar platform
- permintaan OTP
- permintaan data pribadi
Jika terdeteksi, pesan diblokir sebelum diterima pengguna.
4. Bagaimana Bank dan E-Commerce Bekerja Sama Mencegah Scam?
Ini poin penting yang jarang dibahas, tetapi sangat krusial. Kedua pihak sering bekerja sama dalam:
a. Membuat daftar rekening mencurigakan
Rekening yang digunakan untuk menipu diblokir lintas platform dalam hitungan hari.
b. Berbagi data ancaman digital
Marketplace melaporkan pola penipuan baru ke bank, begitu pula sebaliknya.
c. Bekerja sama dengan regulator
Untuk mempercepat pemblokiran rekening dan penanganan kasus.
d. Integrasi sistem keamanan
Seperti penggunaan token, verifikasi identitas, dan monitoring transaksi yang terhubung.
5. Peran Pengguna dalam Sistem Teknologi Anti-Scam
Teknologi bukan satu-satunya solusi. Pengguna tetap memiliki peran penting.
Pengguna harus:
- tidak memberikan OTP kepada siapapun
- tidak klik link yang mencurigakan
- mengaktifkan biometrik
- rutin memperbarui password
- hanya bertransaksi melalui platform resmi
- hindari komunikasi luar platform
Bank dan marketplace menyediakan fitur keamanan, tetapi pengguna harus memanfaatkannya.

6. Tantangan yang Masih Dihadapi Industri dalam Mencegah Scam
a. Penipu yang ikut menggunakan AI
Penipu membuat deepfake suara, pesan otomatis, dan situs palsu yang semakin mirip aslinya.
b. Evolusi modus penipuan yang cepat
Sistem harus terus diperbarui agar tidak ketinggalan.
c. Literasi digital masyarakat masih rendah
Banyak pengguna masih percaya pada pesan palsu dan iming-iming hadiah.
d. Kompleksitas regulasi
Setiap kasus scam tidak selalu mudah dibuktikan, terutama yang melibatkan beberapa platform sekaligus.
7. Masa Depan Pencegahan Scam: Teknologi yang Akan Menguasai Industri
Dalam beberapa tahun ke depan, bank dan e-commerce akan menggunakan teknologi yang lebih maju:
a. AI yang mampu memprediksi scam sebelum terjadi
Bukan hanya mendeteksi, tetapi membaca potensi ancaman di masa depan.
b. Zero-Trust Security
Sistem keamanan yang tidak percaya pada aktivitas apapun sebelum diverifikasi.
c. Biometrik multi-lapis
Menggabungkan wajah, suara, dan perilaku pengguna.
d. Enkripsi kuantum
Pengamanan data yang hampir mustahil diretas.
e. Kolaborasi nasional dan internasional
Platform global berbagi data kejahatan digital secara otomatis.

Kesimpulan
Bank dan e-commerce berada di garis depan dalam perang melawan scam digital. Dengan menggabungkan AI, Big Data, biometrik, monitoring real-time, analitik risiko, hingga sistem verifikasi identitas, mereka mampu menjaga keamanan transaksi jutaan pengguna setiap hari.
Meski begitu, teknologi bukan satu-satunya benteng. Edukasi digital pengguna tetap menjadi faktor kunci. Dengan meningkatnya kesadaran, penggunaan fitur keamanan, dan kehati-hatian dalam bertransaksi, ancaman scam dapat dikurangi secara signifikan.
Inilah era di mana keamanan digital menjadi prioritas utama, dan kerja sama antara teknologi, perusahaan, dan pengguna menjadi pondasi utamanya.


